Senin, 17 November 2014

Rencanaku Setelah Lulus S-1


            Saat masih duduk dibangku SMA aku telah memikirkan apa yang akan kulakukan setelah lulus nanti. Tahapan yang pertama kulakukan tentunya mencari pekerjaaan dan membuat orang tuaku bangga serta membahagiakan orang- orang yang begitu aku sayangi. Dulu aku bercita- cita ingin menjadi seorang guru seperti yang disarankan oleh ibuku saat itu, megapa menjadi guru ? karena wanita setelah menikah nantinya tidak hanya bertanggung jawab kepada dirinya sendiri melainkan bertanggung jawab juga terhadap pendamping dan anak- anaknya kelak. Menurutku menjadi guru selain pekerjaan yang mulia adalah salah satu pekerjaan yang bisa dilakukan tanpa harus mengorbankan keluarga, mempunyai banyak waktu luang, serta mempunyai pengetahuan lebih untuk mengajarkan anak- anaknya.
            Keinginanku adalah menjadi seorang guru Biologi, entah mengapa aku begitu sangat menyukai pelajaran itu sejak SMA mungkin Biologi adalah pengetahuan yang mempelajari salah satunya tentang kesehatan. Hingga saat mendaftar kuliahpun jurusan yang ku ambil adalah pendidikan Biologi. Namun keinginanku menjadi seorang guru Biologi tidak bisa diwujudkan karena aku tidak di terima saat itu di salah satu Universitas Negeri. Sejak saat itu kakak ku langsung mendaftarkan dan langsung memilihkan jurusan untuk ku.
            Serasa semua cita- citaku tidak bisa diwujudkan saat itu karena jurusan yang ku ambil tidak sesuai dengan keinginanku saat itu, setelah semua berjalan aku berfikir mungkin gagal untuk menjadi guru namun tidak menutup kemungkinan untuk bisa menjadi seorang Dosen sekalipun bukan Dosen Biologi tentunya.
            Saat ini hal yang dapat aku lakukan adalah memantapkan serta mempersiapkan diri sebaik mungkin rencanaku ini setelah lulus S-1 dan meneruskan pendidikan S-2 nanti. Selain ingin menjadi Dosen cita- citaku lainnya adalah bekerja di salah satu Bank seperti foto yang terlampir dibawah ini atau di Rumah Sakit bagian Administrasi tentunya.




            Apapun pekerjaanku, aku berharap itulah yang terbaik untukku nantinya meski begitu berharap untuk menjadi seorang Dosen yang alasannya sama seperti keinginanku menjadi seorang guru. Berusha… Berdoa semoga Allah memudahkan jalan untuk menyelesaikan kuliah dan menggapai cita- citaku serta membuat orang tuaku bangga kepadaku.


Laboratorium Akuntansi Menjadi Awal Segalanya



            Setelah resmi menjadi seorang mahasiswi, jadwal kuliah dan praktikum pun sudah tersedia. Praktikum dimulai saat perkuliahan sudah aktif beberapa minggu. Semester 1 aku mendapatkan tiga praktikum dalam satu minggu dan hingga waktunya praktikum sudah di mulai, saat itu aku tidak ada masalah dalam menjalankan praktikum yang sudah disediakan namun ada salah satu praktikum yang diawali dengan “tangis”. Yaa.. praktikum itu adalah praktikum Akuntansi Dasar pada pertemuan pertama aku begitu merasakan bahwa aku salah mengambil jurusan karena aku tidak tahu sama sekali apa itu akuntansi mungkin karena waku SMA jurusan yang ku ambil adalah IPA, saat pertemuan pertama praktikum itu berlangsung kami diarahkan bagaimana membuat perusahaan baru serta menginput data- data yang harus ada pada perusahaan tersebut. Saat  mengerjakan Tutor praktikum pun berkata bahwa siapa yang cepat menginput data- data perusahaan akan mendapat nilai Max, seketika aku bingung yang ada di pikiranku hanyalah bagaimana menginput semua data ini dengan benar dan mendapat nilai Max sedangkan aku belum terbiasa dengan istilah- istilah yang digunakan dalam akuntansi.
            Waktupun berjalan hingga waktu yang disedikan untuk membuat dan menginput data- data perusahaan baru habis, aku gagal mendapatkan nilai Max… nilai itu hanya di sediakan untuk beberapa orang tercepat saja. Setelah itu, para asisten laboratorium pun mengecek pekerjaan kami tapi pekerjaanku malah salah semua.. aku tidak bisa menginput data- data perusahaan baru dengan benar. Rasa kecewa dan panik langsung menghampiri serasa apa yang ku kerjakan sia-sia dan merasa bodoh sekali aku tidak bisa mengerjakan tugas itu dengan benar lalu saat itu juga aku meminta salah satu dari kakak asisten untuk memberi tahu dimana letak kesalahan dalam menginput data- data tersebut.
            Salah satu kakak asisten itupun menghampiri dan aku bertanya bagaimana jika terjadi kesalahan menginput data seperti ini apa akan berpengaruh pada nilai, kakak itupun menjelaskan dan menenangkanku yang begitu terlihat panik.. diberitahukan bahwa tidak ada pengurangan nilai dan kesalahan menginput data akan di back- up oleh para asisten.
Sedikit lega memang, namun tidak bisa ditahan lagi air mata ini menetes… dasarnya saja aku sudah tidak bisa bagaimana untuk kedepannya ? langkah selanjutnya adalah aku memberanikan diri untuk menghampiri kakak asisten tadi dan mengajaknya bicara “kak, apa kakak berkenan untuk mengajarkanku Akuntansi dari dasar karena aku tidak tahu sama sekali tentang akuntansi” dan jawabnya adalah “tentu saja dek”.. saat itu juga kakak itu memberikan nomer handphonenya untuk konfirmasi kapan belajar diluar jadwal praktikum.
            Awalnya sedikit takut untuk konfirmasi belajar tambahan, takut kakaknya sibuk atau bahkan tidak mau membalas pesanku.. namun semua tanggapanku salah, ternyata kakak itu bersedia mengajarkanku. Mulai saat itu setiap hari minggu kami selalu belajar akuntansi bersama hingga mengerjakan semua tugas baik tugas praktikum dan kelas kakak itu selalu bersedia membantu.
Alhamdulillah, selama belajar akuntansi kini sedikit demi sedekit aku bisa mengerti akuntansi. Kakak itu mengajarkan ku dari nol dengan sabar sekali, hingga praktikum akuntansi selesai hubungan kami masih tetap terjalin dengan baik seperti layaknya kakak dan adik. Hikmah dari kegagalan menginput data adalah pertemuan dengan seorang kakak asisten yang begitu baik dan berhati seperti malaikat. Terima kasih banyak kak Cintya untuk semua ilmu yang diberikan selama ini, tetaplah menjadi kakak terbaikku. Semoga setelah lulus lebih sukses lagi, salam rindu dan peluk hangat dari adikmu ini ^___^”
                                                                                                      
       

Minggu, 09 November 2014

Pesan Singkat



Pesan Singkat, Namun Selalu Menjadi Peganganku …

Saat duduk dibangku SMA kebetulan sekolahku adalah sekolah Islam yang setiap harinya selalu disirami dengan kegiatan- kegiatan Rohani seperti sebelum memulai pelajaram kami selalu membaca Al- Qur’an bersama, menjelang istirahat kami melaksanakan Sholat Dhuha terlebih dahulu, dan ketika waktu pulang kami melaksanakan sholat Dzuhur secara berjamaah serta tak jarang sekolah mengadakan kegiatan Rohis disetiap Bulan selama satu kali. Disekolah ini begitu kurasakan sekali ajaran- ajaran baik Ilmu maupun Agama yang diberikan kepadaku hingga membuatku merasa bahagia dan bangga menjadi bagian dari sekolah ini.
Suatu ketika saat aku bersama teman- temanku sedang berkumpul, ada seseorang yang berkata “Ibaratkanlah dirimu seperti barang yang diletakan diatas yang tidak mudah dipegang, dicoba dan dilihat oleh siapapun kecuali orang yang betul- betul ingin membelinya” kamipun terdiam dan bertanya apa maksud dari kalimat tersebut. Lalu dijelaskanlah kepada kami maksud kalimat tadi, Bahwa kami sebagai wanita jadilah seorang wanita yang tidak mudah disentuh oleh sembarang laki- laki kecuali laki- laki yang betul- betul ingin menjalin hubungan kepada kami. Laki- laki yang baik pasti akan menjaga kita bukan malah merusak. Janganlah dengan mudah menjatuhkan hati kepada sembarang laki- laki karena hal tersebut hanya membuat pandangan orang lain kepadamu menjadi buruk.
Lalu seketika seseorang tersebut bertanya kepada salah- satu teman laki- laki, “ ada 2 permen, yang satu dibungkus dan satunya tidak dibungkus manakah yang kamu pilih” dengan lantangnya laki- laki itu berkata dia tentu akan memilih permen yang masih dibungkus.
Dari contoh seperti ini seharusnya kita sebagai wanita harus menyadari laki- laki saja akan memilih yang terbungkus dibanding dengan yang tidak. Ibaratkan dirimu seperti permen pasti orang akan lebih memilih yang masih terbungkus. Laki- laki manapun akan selalu mencari Ibu yang terbaik bagi anak- anaknya kelak.
                Kata- kata tersebut memanglah singkat namun memiliki arti penting khususnya kami sebagai wanita, dan kata- kata itulah yang selalu menjadi pegangan kami untuk menjadi seorang wanita yang baik.

Anugrah TerindahKU



ANUGRAH TERINDAHKU….

Tiada Harta yang paling berharga selain memilikimu….
Tiada Kebahagian paling sempurna selain bersamamu…
Tiada Kasih sayang tulus.. setulus kasih sayangmu…

Rasa syukur dan terima kasih tak terhinggaku kepada Allah SWT karena telah diberikan kedua orang tua, kakak, adik, serta keluarga yang begitu menyayangiku.. setiap hari diberikannya aku kasih sayang yang begitu tulus, selalu ada dikala aku sedih maupun senang, tidak pernah lelah memberikanku semangat, selalu mengajarkanku bagaimana menjadi seorang wanita yang baik. Waktu semakin berlalu hingga kini aku telah beranjak dewasa namun kasih sayang yang mereka berikan tidak pernah berkurang sedikitpun..
Sejak kecil hingga saat ini dan kedepannya nanti aku yakin semua yang mereka berikan tidak akan pernah pudar sampai kapanpun…
Terlebih untukmu Mamah tercintaku.. tiada hentinya aku mengucap syukur telah diberikannya seorang ibu yang begitu luar biasa yang selalu ada untuk anak-anaknya, selalu berusaha dan berjuang agar kami anak- anakmu bisa menjadi orang yang sukses, berbagai cara dilakukan agar kami selalu bahagia.. hingga kami tak pernah merasakan sedikitpun rasa sayangmu berkurang.  Terdapat sedikit  lirik lagu dari sherina munaf yang berjudul “Andai Aku Besar Nanti” yang membuatku tersentuh dan membuka mata bahwa aku HARUS bisa membahagiakan Orang tuaku terutama Mamah.

Kutahu kau berharap dalam doamu
Kutahu kau berjaga dalam langkahku
Kutahu s'lalu cinta dalam senyummu
Oh Tuhan, Kau kupinta bahagiakan mereka sepertiku

Andai aku t'lah dewasa
Ingin aku persembahkan
Semurni cintamu, setulus kasih sayangmu
Kau s'lalu kucinta

Sebelum berangkat untuk kuliah atau disaat aku sedang lelah lagu ini selalu aku dengarkan. Lirik dari lagu ini memberikanku semangat untuk bisa membahagiakan kedua orang tuaku serta meyakinkan aku bahwa dalam setiap doa pasti ada nama kami.. dalam setiap langkah kami selalu ada harapan agar kami bisa menjadi orang yang lebih baik dari mereka dan sukses.
Hingga saat sudah beranjak dewasa seperti ini selalu dimanjakannya aku dengan kasih sayangmu.. semua itu begitu semakin terasa ketika saat kuliah seperti ini aku tidak tinggal bersama kedua orang tuaku. Setiap harinya mamah selalu menelfonku menanyakan aku sedang dimana, lagi apa, serta apa keluh kesahku hari ini. Terkadang ada beberapa temanku yang tertawa saat mamah menelfon mungkin terkesan aku ini masih seperti anak kecil yang masih di telfon Tapi… hal inilah yang semakin membuat aku sadar begitu besarnya rasa kasih sayang mamah kepadaku.. aku bangga saat sudah dewasa seperti ini orang tuaku masih tetap memperhatikanku, mungkin tidak semua orang tua masih memberikan perhatian lebih seperti ini kepada anak-anaknya ketika anak- anaknya sudah beranjak dewasa. Dan ketika saat pulang kerumah dekapan pelukmu terasa membuat rasa letih ini sirna dan berganti menjadi semangat. Tanpamu aku tak berarti apa- apa mah..
Banyak hal yang harus aku tiru darimu.. kelak aku juga menginginkan bisa menjadi seorang Ibu sepertimu yang selalu memberikan kehangatan kasih sayang dan kebahagian ditengah keluarga kecilku nantinya.
Mamah.. membahagiakanmu adalah “kewajiban” untuk kami.. tiada hal yang bisa membalas semua jasa- jasamu yang telah Kau berikan dari kami kecil hingga saat ini. InsyaAllah kesuksesan kami kelak akan membuatmu bahagia.
Terima Kasihku atas semua yang mamah berikan untuk kami anak- anakmu.. JANJIku padamu, aku akan selalu berusaha membuatmu tersenyum dan bahagia telah memiliki anak- anak seperti kami. Tetaplah jadi Pelindung dan Penerang Jiwa kami, I Love You Mah.. and I Love My Family.
                                                                                                                                                                                                                                                                                    ~Nurul Azmi